Mengambilmakanan menggunakan sendok yang berbeda. Jangan menggunakan sendok yang kamu pakai untuk makan untuk mengambil makanan dari piring-piring di tengah meja. Kalau kamu sampai keliru, orang Vietnam menganggap hal itu sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Baca: Liburan ke Jepang, Ini 5 Hal yang Wajib Dilakukan di Tokyo. Memakai sumpit Tetapibukan berarti Anda bebas melakukannya tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan oleh ulah Anda itu. Jangan sampai Anda lega bisa membuang kotoran Anda namun meninggalkan "sisa" bagi orang sesudah Anda. Hal lain yang juga menyesakan dada saya adalah apabila melihat sisa makanan di piring, baik itu di restoran, hotel atau tempat Anas bin Malik berkata): dan beliau memerintahkan kepada kami untuk menjilat piring dan bersabda: Sesungguhnya kalian tidak tahu di bagian mana pada makanan kalian terdapat keberkahan H.R Muslim. 10. Makan dari pinggirnya, tidak mengambil mulai dari tengah (atas) makanan, karena keberkahan makanan itu diturunkan dari tengahnya. Antaralain ada sebuah "ajaran" yang keliru sebagian orang, sehingga kemudian menjadi "tradisi" mereka ketika makan. Yaitu "jangan menghabiskan semua makanan di atas piring, sebagian harus disisakan". Hal itu mereka lakukan supaya ada kesan bahwa mereka bukan orang yang sedang kelaparan atau orang yang benar-benar sangat membutuhkan makanan. . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kalau gak habis ya pesen setengah porsi aja. Jangan tinggalin sisa di piring! Sebuah perlakuan mengerikan pada makanan saat banyak masyarakat masih kekurangan mahasiswa tingkat akhir yang doyan wisata kuliner, tentu saya rajin meng "iya" kan ajakan kawan-kawan di grup WA dan Line untuk pergi ke angkringan, per-sate-an duniawi, atau mie ayam seputaran kampus. Ya kalau lagi ada duit banyak, bebek dan ayam goreng bakar yang agak jauh menjadi pilihan terbaik. Fastfood dan tempat makanan instan lain terpaksa saya tanggalkan, selain karena alasan kesehatan, makanan yang didominasi junk food itu jarang kami singgahi karena bikin dompet menjerit-jerit kesakitan. Ingat to gimana rasanya jerawat dipencet? Ya seperti itulah rasanya ketika duit lagi tipis tapi diajak makan mahal. Dalam trilogi tatanan kehidupan masyarakat, kebutuhan primer manusia terdiri dari triple-S. Sandang pakaian, pangan makanan, dan papan tempat tinggal. Walaupun pada abad 21 ini smartphone dan kuota penunjangnya menjadi kebutuhan primer keempat bagi para milenial yang sedang menyelesaikan push rank-nya ini. Siapapun butuh makan, yaiyalah, tiap hari makan, ketemu gebetan makan, ketemu mantan pacar makan, ketemu pacarnya mantan makan, dan setiap pertemuan kebanyakan pakai acara makanan sudah diantar mbak-mbak pramusaji, nafsu liar langsung bergejolak ingin segera mencicipi hangatnya hidangan yang disajikan. Jika dekorasi makanan dan warungnya instagramable dan dinilai "nyeni", pasti deh ada aja beberapa makluk yang melakukukan sesi pemotretan dan di upload ke insta story. Bukan foto-fotonya yang jadi masalah, tapi terkadang seusai makan, masih banyak sisa-sisa lauk dan nasi yang ditinggalkan di piring. Mungkin mereka pengen meninggalkan jejak kenang-kenangan atau mau menyindir pemilik restoran dengan tanda semiosis, atau nada-nada satire yang tak sempat untuk diucapkan secara gamblang dengan kalimat Woy masakanmu kepedesan, nasinya kebanyakan. Sisa makanan adalah masalah besar, karena fungsi utama makan bukan sebagai penunda lapar, tapi sebagai cara melanjutkan hidup. Eh situ malah buang-buang aja makanan alias menyisakan di piring. Padahal limbah makanan yang sengaja dibuang itu masih layak untuk dikonsumsi. Dikutip dari laman jumlah rata-rata sampah sisa makanan dalam setahun di Indonesia adalah 13 juta ton. Hal itu dipicu karena perilaku menyisakan makanan dalam piring ketika makan. Padahal, makanan 13 juta ton itu bisa menghidupi 28 juta penduduk Indonesia yang sih yang biasa disisain anak muda? Nasi atau sayuran. Makanan pokok staple foods seperti nasi adalah makanan paling banyak nomor 2 dikonsumsi penduduk dunia setelah jagung dan sebelum gandum. Beras dinikmati di sebagian belahan benua asia asia tenggara, asia selatan, dan asia timur 1 2 3 Lihat Nature Selengkapnya Ketika makan hendaknya menghabiskan makanan kita dan tidak menyisakan makanan di piring, meskipun itu hanya sebutir. Menyisakan makanan dan membuangnya termasuk perbuatan tercela dalam Islam karena hal itu termasuk perbuatan menyia-nyiakan harta dan nikmat Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah benci terhadap tiga hal, yaitu berita palsu atau gosip, menyia-nyiakan harta atau makanan, dan banyak meminta. Hadis dimaksud diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari Mughirah bin Syuโ€™bah. Berikut ini adalah hadistnya ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูƒูŽุฑูู‡ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุซูŽู„ุงูŽุซู‹ุง ู‚ููŠู„ูŽ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุŒ ูˆูŽุฅูุถูŽุงุนูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ุŒ ูˆูŽูƒูŽุซู’ุฑูŽุฉูŽ ุงู„ุณูู‘ุคูŽุงู„ู Sesungguhnya Allah membeci kalian karena tiga hal; Berita palsu atau gosip, menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta. Bahkan ketika kita makan dan ada satu butir makanan atau lebih yang jatuh, maka kita dianjurkan untuk mengambilnya dan memakannya. Hal ini karena bisa jadi makanan yang jatuh tersebut merupakan makanan yang mengandung keberkahan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah, dia berkata; ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุญู’ุถูุฑู ุฃูŽุญูŽุฏูŽูƒูู…ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽู‰ู’ุกู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฃู’ู†ูู‡ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุญู’ุถูุฑูŽู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุทูŽุนูŽุงู…ูู‡ู ููŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽู‚ูŽุทูŽุชู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู ุงู„ู„ูู‘ู‚ู’ู…ูŽุฉู ููŽู„ู’ูŠูู…ูุทู’ ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฐู‹ู‰ ุซูู…ูŽู‘ ู„ู’ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฏูŽุนู’ู‡ูŽุง ู„ูู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ููŽุฅูุฐูŽุง ููŽุฑูŽุบูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽู„ู’ุนูŽู‚ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูุนูŽู‡ู ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠ ูููŠ ุฃูŽู‰ูู‘ ุทูŽุนูŽุงู…ูู‡ู ุชูŽูƒููˆู†ู ุงู„ู’ุจูŽุฑูŽูƒูŽุฉู Saya pernah mendengar Nabi Saw bersabda; Sesungguhnya setan menyertai salah satu dari kalian dalam segala hal hingga menyertai kalian ketika makan. Oleh karena itu, apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambilah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jika sudah selesai makan, makan hendaknya menjilati jari-jarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah. Maka dari itu, menyisakan makanan termasuk perbuatan tercela dalam Islam. Jika kita hendak makan, maka sebaiknya mengambil secukupnya saja agar makanan yang ada tidak tersisa. Baca Juga Hereโ€™s a Prayer to Get Rid of Diseases in Food Sebelum virus Covid-19 menyerang, saya dan teman-teman kerap mengadakan kegiatan kumpul bersama. Entah itu main ke kafe, camping, atau sekadar ngumpul di kos salah satu teman. Kegiatan ngumpul ini tentu tidak dapat dipisahkan dari aktivitas olah mulut alias mbadog. Seperti ada yang kurang rasanya jika kumpul dan bergosip ria dengan teman, tapi tidak ada sedang ngumpul, saya dan teman-teman cenderung mengutamakan kegiatan mbadog ini. Makanan yang dibadog pun menyesuaikan dengan lokasi dan kondisi keuangan kami. Contohnya, ketika saya dan teman-teman sedang berkumpul di kos daerah Sapen, Yogyakarta. Makanan yang kemungkinan kami pesan adalah camilan legend di daerah itu, apalagi kalau bukan Tahu Walik lagi kalau sedang ngumpul di daerah Krapyak, Yogyakarta. Tempat di mana saya dipesantrenkan sejak MTs hingga kuliah. Di sini saya malah bingung memilih makanan saking banyaknya jajanan yang tersebar di Krapyak. Apa saja ada pokoknya. Tinggal dananya saja yang ada atau tidak~Nah, di antara momen-momen tersebut, sering kali saya dan teman-teman ini hanya lapar mata. Beli makanan kadung banyak, tapi ujung-ujungnya diakhiri dengan kekenyangan. Namun, ada satu peristiwa yang unik di sini. Apabila kami semua sudah kenyang, kok ya ngepasi makanan yang tersisa di piring tinggal sebiji. Mbuh gimana asal-usul dan kronologinya. Akhirnya kami saling menyalahkan dan tunjuk-tunjukkan tentang siapa yang harus menghabiskan makanan makanan yang hanya tersisa satu itu tidak hanya muncul sekali dua kali dalam hidup saya. Sudah berkali-kali saya dan teman-teman mengalami kejadian serupa. Hingga ketika ada makanan tersisa di piring, pasti ada saja yang nyeletuk, โ€œTo, lak mesthi tho.โ€Oleh karena itu, saya ingin menerka-nerka apa alasan sebenarnya di balik kejadian yang unik itu. Apakah ada unsur mistis di dalamnya? Mari kita usut hal-hal yang kemungkinan menjadi alasan menyisakan makanan yang tinggal satu di piring.1 MaluIni adalah salah satu alasan paling klasik yang sering diungkapkan oleh orang. Menjadi orang yang terakhir mengambil makanan akan menyisakan beban tersendiri bagi orang tersebut. Saya sendiri pernah mengalaminya. Saat itu saya sudah kenyang dan terpaksa menghabiskan makanan yang tersisa karena sayang. Salah satu dari teman saya ada yang nyeletuk, โ€œIseh ngelih yo we?โ€ Yang begini sungguh demi menghindari celetukan yang nyebelin itu, lebih baik saya diam dan membiarkan oknum lain memakan makanan yang tinggal satu tersebut. Bukannya gimana, tapi saya tidak mau dikira masih lapar dan terlihat memelas~2 Mendadak kenyangSaya tidak tahu apakah ada kajian ilmiah di balik fenomena ini, tapi yang jelas saya betul-betul merasakannya. Saya tidak berbohong ketika bilang perut saya sudah kenyang dan ndilalah ngepasi makanan yang tersisa di piring tinggal satu. Kalau dibilang malu sepertinya juga tidak, lantaran saya sering berkumpul dengan orang-orang yang sama pekoknya dengan ada konspirasi tertentu dari elit-elit global yang menyamar jadi cacing-cacing di perut? Saya tidak tahu. Kebetulan juga tidak mau tahu. Entah gimana, yang jelas saya berharap ada kajian mendalam di balik alasan ini.3 Jaga imageJaim atau jaga image mungkin alasan yang dimiliki oleh kaum-kaum introvert. Meski begitu, jika alasan ini terbukti benar, pastinya akan menyiksa cacing-cacing yang kelaparan. Lha gimana? Ngapain juga kalau aslinya lapar, tapi pura-pura tidak lapar. Berjuang tidak sebercanda itu, Sayang~4 Nggak mau ngasahiIni sepertinya alasan yang paling masuk akal dari alasan-alasan yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Menjadi orang terakhir yang mengambil sisa makanan penghabisan selalu diiringi tanggung jawab untuk membersihkan piring. Meski tidak ada aturan tertulis mengenai hal ini, rasanya pekewuh kalau tidak sekalian membersihkan peralatan makan. Oleh karena itu, orang-orang lebih sering memilih untuk tidak mengambil makanan yang tinggal satu itu karena malas ngasahi. Lha piye? Males je, Brou~BACA JUGA 4 Elemen Penting dalam Memilih Snack untuk Sajian Hajatan. Butuh Trik Khusus dan tulisan Yafiโ€™ Alfita Mojok merupakan platform User Generated Content UGC untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di diperbarui pada 23 Desember 2020 oleh Intan Ekapratiwi Memangnya kenapa kalau makanan di piringmu habis, bersih tidak bersisa? Malu? Gengsi disangka lapar sekaligus doyan? Kalau memang lapar dan doyan, lalu kenapa? Lalu yang menyuguhkan makanan mengamini, ikut menertawakan orang yang piringnya bersih. Kemudian mengakhiri tawanya dengan ungkapan bahwa itu cuma bercanda. Sungguh tidak pantas. Saya lupa kapan terakhir kali saya menyisakan makanan alias makanannya tidak habis. Barangkali, sewaktu SMP. Itu yang terakhir. Ingatan kuat soal adab makan ini, saya peroleh saat kuliah semester 4 atau 5. Ketika sedang mengajar, dosen saya yang satu itu, Prof D, selalu mengaitkan teori yang sedang kami pelajari dengan kejadian kontekstual. Di tengah cerita panjangnya โ€“yang saya juga lupa beliau cerita apaโ€“ tiba-tiba beliau berpesan satu hal yang sampai detik ini, selalu saya ingat. Selalu. โ€œDi balik sebutir nasi yang sampai di meja kita, yang ada di depan kita dan siap untuk kita santap itu, ada kerja keras dan keringat banyak orang. Maka, jangan sampai kita menyisakan makanan di piring. Setiap mau mulai makan, ingat saja orang-orang yang sudah bersusah payah menyediakan sebutir nasi itu untuk kita.โ€ Ucapan beliau 6-7 tahun lalu yang selalu saya ingat dan akan terus diingat sampai kapan pun, insyaa Allah. Semoga diberi usia yang panjang dan barokah, Prof D. Dari serangkaian ingatan buruk tentang Bapak, ternyata ada juga ajaran yang efeknya baik untuk saya sekarang; dilarang mengeluh, makan harus habis, dilarang makan sambil bunyi kecap-kecap, sikat gigi 2x sehari. Hanya itu yang saya ingat. Saya bersyukur sekali punya orangtua yang sewaktu saya kecil, mencontohkan kebiasaan baik saat sedang makan. Fokus, rapi, bersih, tenang, cepat, sepi alias tidak bunyi kecap-kecap, dan harus habis. Jadi tidak ada sejarahnya kami saya, ibuk, bapak makan disambi aktivitas lain. Kalau sedang makan, ya, makan. Tidak boleh ada kegiatan lain. Maka, sewaktu saya masuk ke kehidupan selebriti akibat pekerjaan kantor, saya menemukan semua hal yang bagi saya sungguh sangat mengganggu itu. Suatu hari, kami makan bersama di restoran mahal. Mereka beli banyak menu, cuma dicicipi satu dua sendok, lalu dibiarkan begitu saja, tidak dibungkus untuk dibawa pulang. Saya yang saat itu sudah kekenyangan karena ternyata satu porsinya besar sekali, memaksakan diri untuk terus mengunyah pelan-pelan sampai habis tak bersisa. Saya kunyah daging steak lezat dengan air mata dan emosi yang ditahan-tahan. Pulangnya, sesudah kami berpisah jalan, saya menangis. Tergugu. Tetangga sebelah rumah saya persis, seorang ibu yang ketika hamil anak bungsunya, kelaparan tengah malam. Beliau punya sekotak makanan, tapi hanya cukup untuk si sulung. Diberikannya sekotak itu kepada anaknya sambil beralasan sudah kenyang. Padahal, perutnya lapar bukan main. Suami? Jauh dari harapan karena hobi judi. Akhirnya, beliau keluar rumah diam-diam, menuju rumah tetangga sebelahnya yang menggantung satu kantong plastik hitam di pagar rumah. Diambilnya kantong itu, lalu dibawa ke dalam rumah. Satu kantong plastik itu menyelamatkan dirinya sejenak pada malam itu. Apa isi kantong plastik itu? Makanan sisa. Makanan yang sengaja digantung di pagar supaya diambil kucing. Makanan yang sungguh tidak layak dikonsumsi manusia, apalagi ibu hamil! Makanan ituโ€ฆ bahkan kita tidak bisa menyebutnya sebagai โ€œmakananโ€ lagi. Sebab itu sampah. Hanya mengingatnya saja hati saya sakit sekali. Bahkan ketika menulis ini, mata saya memerah. Saya sungguh membenci sifat dan tindakan orang yang hobi menyisakan makanan.

jangan menyisakan makanan dalam piring karena itu perbuatan